Subscribe:

Senin, 16 Januari 2012

Mengapa Bisa Beda Persepsi?

Seni dalam berkomunikasi memang luar biasa, dan sangat penting untuk dipelajari oleh setiap orang. Karena komunikasi merupakan kunci keberhasilan hubungan dengan orang lain. Banyak konflik terjadi karena gagalnya proses komunikasi yang bertujuan untuk saling bertukar pikiran, saling mengenal dan pada akhirnya bisa saling memahami. Namun pada tulisan ini saya tidak akan menjelaskan konsep dan teori komunikasi seperti Semiotika yang saya sendiri tidak begitu menguasainya.
Baiklah, kita mulai dari menguji persepsi Anda pada gambar berikut ini:

Menurut Anda Gambar Apakah ini?
Kalau Anda melihat gambar di atas sebagai gambar sebuah vas bunga atau bidak catur, maka Anda tidak salah. Anda bisa melihat gambar yang berwarna putih di tengah tersebut sebagai vas bunga atau bidak catur.
Namun, bila kemudian di antara Anda melihat gambar yang berbeda, yaitu gambar 2 wajah pria yang saling berhadapan, maka itu juga ada benarnya. Silahkan fokuskan pandangan Anda pada gambar warna hitam di sisi kiri dan kanan warna putuh yang ada di tengah, maka Anda akan melihat bentuk wajah warna hitam (siluet) yang saling berhadapan.
Fakta dan Persepsi
Ternyata fakta (gambar) yang sama dapat menunjukkan persepsi yang berbeda, tidak hanya oleh orang yang berbeda, bahkan oleh orang yang sama sekalipun.  Cukup wajar bila 2 orang yang berbeda yang melihat gambar tersebut memiliki persepsi yang berbeda. Namun ternyata cukup luar biasa bagi seseorang yang menangkap gambar yang sama namun dengan 2 persepsi yang berbeda. Perbedaan persepsi ini tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya.
Konflik atau perdebatan biasa saja terjadi pada beberapa orang karena adanya perbedaan persepsi dan cara pandang dalam melihat sesuatu. Bila masing-masing orang saling terbuka akan sudut pandang dan persepsinya, maka akan mudah bagi masing-masing orang berbeda pendapat untuk menguji kebenaran persepsinya. Namun bila masing-masing orang merasa benar sendiri dalam menangkap fakta, maka akibatnya konflik dan perdebatan sulit untuk dihindari.
Fakta dan Realita
Baiklah, coba perhatikan cerita tentang 5 orang buta (maaf, bagi para difabel)  yang diuji untuk menceritakan bentuk gajah. Masing-masing orang diberi tempat dan waktu untuk meraba dan mengidentifikasi bentuk gajah yang mereka pegang.
Orang pertama berpendapat kalau gajah itu kurus panjang seperti ular namun berbulu. Orang kedua berpendapat kalau gajah  itu lebar seperti papan. Orang ketiga bilang kalau gajah itu lebar seperti kipas. Orang keempat berkata gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa. Sedangkan orang terakhir berkata kala gajah  itu panjang seperti ular dan lentur.
Dalam hidup ini kadang kala kita hanya menangkap sekumpulan fakta yang membentuk persepsi kita. Kumpulan fakta-fakta tersebut seperti komponen bagian dari sebuah puzzle yang jika digabungkan akan membentuk realita.
Puzzle (www.kharismabangsa.or.id)
Puzzle (www.kharismabangsa.or.id)
Apa yang ditangkap oleh masing-masing orang yang ada pada gambar tersebut adalah fakta. Sedangkan persepsi masing-masing tergantung dari pengetahuan dan pola pikir masing-masing orang. Namun setelah fakta-fakta tersebut dikumpulkan dan disusun, maka jadilah realita dari bentuk yang sebenarnya.
Konsep persepsi, fakta dan realitas tersebut di atas, dapat kita berikan catatan sebagai berikut:
  1. Hendaklah kita bersikap terbuka (open mind) terhadap pendapat orang  lain, untuk membantu diri kita menemukan realita dalam kehidupan.

  2. Jangan telalu cepat mengambil kesimpulan pada fakta-fakta yang kita terima, termasuk juga dengan media. Media massa menyampaikan sepenggal fakta yang mereka terima. Walau kadang kala media massa tidak lepas dari adanya agenda setting dan framing dalam setiap pemberitaannya.

  3. Ada baiknya menghormati pandangan dan pendapat orang lain karena sadar bahwa setiap orang memiliki persepsi yang berbeda sesuai dengan pengetahuan dan pola pikir orang tersebut. Tidak perlu kita memaksakan persepsi kita pada orang lain.

  4. Baik bagi kita untuk belajar berkomunikasi secara efektif. Belajar bagaimana menyampaikan ide, pendapat, dan gagasan pada orang lain agar si penerima pesan kita tersebut memiliki persepsi yang sama dengan yang kita inginkan. salah satunya adalah berkomunikasi secara asertif.

  5. Kita harus meyakini kebenaran masing-masing ajaran agama kita. Sedangkan sesama penganut agama  dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi dalam penafsiran berbagai teks ajaran agama. Keterbukaan untuk saling belajar memaknai ajaran agama, akan membantu mencapai kebenaran dari apa yang Tuhan maksudkan dalam setiap perintah dan larangannya.
Demikian persepsi saya tentang persepsi itu sendiri.  Jika Anda salah memahami tulisan saya ini, maka coba periksa kembali kaca mata kuda yang biasa Anda gunakan. :)

Sumber : http://muda.kompasiana.com/2011/08/22/mengapa-bisa-beda-persepsi/


0 komentar:

Mohon Berkomentarlah dengan Baik dan Sopan
Maaf, jika ingin menyertakan url mohon di LINK saja ya (NO http://) atau komentar hanya sekedar promosi akan di hapus. Thank's ^_^

Poskan Komentar