Subscribe:

Jumat, 02 Desember 2011

Jepang Olah Tinja Manusia Jadi Makanan

Mitsuyuki Ikeda, ilmuwan asal Okayama Laboratory yakin bahwa banyak protein bagus di dalam kotoran manusia yang bisa dimanfaatkan. Untuk itu, ia mencari cara untuk mengekstraknya, mencampurnya dengan saus steak, dan berhasil membuat kotoran itu menjadi makanan.
Orang mungkin bertanya-tanya apa alasannya melakukan hal itu. Tetapi ternyata, alasan utamanya adalah permintaan dari pemerintah Tokyo sendiri.

Sebagai informasi, Tokyo saat ini kewalahan dengan lumpur selokan bawah tanah, dan satu-satunya cara untuk mengatasinya selain dengan membuang ke laut adalah dengan memakan ‘kotoran-kotoran’ tersebut.

Saat diteliti, Ikeda mendapati bahwa lumpur itu penuh dengan protein karena banyaknya konten bakteria di sana. Setelah dikombinasikan dengan peningkat reaksi dan menempatkannya di mesin ajaib yang disebut ‘exploder’, akhirnya steak buatan berhasil dibuat.

Lumpur kotoran itu mengandung 63 persen protein, 25 persen karbohidrat, 3 persen vitamin yang larut dalam lemak, serta 9 persen mineral. Adapun steak buatan yang dihasilkan pun warnanya juga merah, jadi konsumen tidak akan mengetahui bahwa yang akan ia makan merupakan tinja olahan.

“Dari uji pertama, orang-orang yang sudah mencobanya menyebutkan, rasanya seperti daging sapi,” sebut Ikeda, seperti dikutip dari Digital Trends.

Menurut Ikeda dan rekan-rekannya, cara ini merupakan solusi sempurna untuk mengurangi jumlah limbah dan emisi dari perut. Namun sayangnya, masih ada kekurangan dari solusi yang ditawarkan Ikeda. Biaya untuk memproduksi ‘Daging’ buatan itu 10 sampai 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi sungguhan.

Baca Selengkapnya»»

Asal Muasal Bahasa Manusia Terkuak

Sebuah studi yang baru-baru ini dirilis menguak misteri asal muasal bahasa yang digunakan manusia. Science Magazine edisi 15 April 2011 mengungkapkan, bahasa yang digunakan oleh manusia pertama kali muncul di selatan Afrika. Dari sanalah kemudian bahasa ini menyebar ke seluruh dunia.
Peneliti dari Universitas Auckland, Selandia Baru, Quentin Atkinson, melakukan studi dengan menelusuri rekam jejak bahasa dengan cara memecah 504 bahasa ke dalam komponen terkecilnya yang disebut sebagai fonem. Fonem berasal dari bahasa Latin, phonema, yang berarti suara yang diucapkan. Penelitian menunjukkan, semakin beragamnya fonem yang dimiliki oleh suatu bahasa menunjukan bahasa itu menjadi sumber dari bahasa-bahasa lain yang lebih sedikit memiliki fonem.
Penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa semakin jauh sekelompok manusia berkelana dari Afrika dalam rekam jejak sejarahnya, semakin sedikit fonem yang digunakan dalam bahasa mereka. Ini mengartikan bahwa sebagaimana diprediksikan dalam studi tersebut, bahasa-bahasa di Amerika Selatan dan Kepulauan Pasifik memiliki fonem paling sedikit, sedangkan bahasa-bahasa di Afrika memiliki fonem terbanyak.
Ternyata, pola ini juga memiliki kesamaan dengan studi terhadap genetik manusia. Sebagaimana dipaparkan sebagai peraturan umum, semakin jauh seseorang keluar dari Afrika, yang dianggap secara luas sebagai asal muasal nenek moyang manusia, semakin kecil perbedaan antara individu dalam populasi kelompok individu tersebut bila dibandingkan dengan keragaman di daerah asalnya, Afrika.
Studi Atkinson ini menggunakan metode statistik mutakhir yang sama untuk mengonstruksikan pohon genetik berdasarkan urutan DNA. Mengenai penggunaan metode statistik ini dalam mencari sumber bahasa manusia, seorang ahli bahasa, Brian D Joseph dari Universitas Ohio, mengatakan, sebagai sumber wawasan baru dalam studi di bidangnya.
"Saya rasa kita sudah seharusnya memerhatikan hal ini dengan seirus meskipun masih ada orang yang akan menolaknya," ujar Joseph.
Sebagai informasi tambahan, studi yang dilakukan Atkinson ini unik karena berusaha menemukan akar bahasa dari waktu yang sangat lampau. Tentang umur bahasa pun masih menjadi soal perdebatan karena di lain sisi ditemukan fakta sementara bahwa umur bahasa telah mencapai 50.000 tahun.Namun, di lain sisi beberapa ahli bahasa lain juga masih skeptis dengan fakta sementara itu. Mereka menemukan faktor lain yaitu "perkembangan dari kata-kata yang sangat cepat" sehingga kemungkinan umur bahasa sendiri tidak lebih dari 10.000 tahun lamanya.
Baca Selengkapnya»»

Ajaib! Buang Air Besar Keluar Bayi

LAMPUNG SELATAN – Kasus perempuan yang melahirkan tanpa proses hamil kembali terjadi. Di Lampung, seorang perempuan mengaku melahirkan bayi tanpa menjalani proses hamil terlebih dahulu.

Ukuran bayi ini tidak seperti bayi yang baru lahir pada umumnya. Berat badannya hanya 700 gram, panjangnya pun 35 sentimeter, dia pun belum bisa menyedot air susu ibu (ASI). Bayi ini diberi susu formula dengan bantuan sendok. Ibu sang bayi, Hayati mengaku melahirkan bayi ini setelah buang air besar, Senin (17/5/2010) dini hari.

"Berdiri lagi langsung kok kemaluanku ada lagi, apa ya? Duduk saya itu. Terus duduk kok ini (bayi) keluar," kata Hayati.

"Waktu di WC itu langsung besar dan tidak merasakan sakit," tambah Hayati.

Hayati dan suaminya mengaku sangat terkejut dengan kelahiran bayi ini. Hayati bersikukuh tidak hamil karena haid setiap bulan, dia juga mengaku ikut program keluarga berencana (KB). Pengakuan Hayati ini dibenarkan para tetangganya di Desa Karangsari, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan.

"Kagetlah orang kagak hamil masa ngelahirin. Anak ajaibkan," kata salah satu tetangga.

"Kalau orang hamil kan kelihatan perutnya gede gitu, kalau ini kan, kelihatan biasa aja," kata tetangga lainnya.

Sejauh ini Hayati mengaku belum memeriksakan diri maupun bayinya ke dokter karena suaminya yang pedagang pisang tidak mampu. Namun dari sudut pandang medis, bayi dilahirkan tanpa proses kehamilan adalah hal yang tidak mungkin.

Apa yang terjadi pada Hayati tampaknya baru bisa diketahui setelah pemeriksaan lebih lanjut. Yang juga tidak kalah penting, bagaimana agar bayi ini dapat bertahan hidup dan tumbuh sehat dengan perawatan yang lebih baik.

Baca Selengkapnya»»

Foto Payudara Syahrini dipegang Vj Daniel Mananta








Baca Selengkapnya»»

AJAIB! Peluru Nyasar Keluar Saat Bersin

Daily Telegraph Peluru itu menembus sisi kanan kepala, lalu bersarang di rongga hidung.
Pesta perayaan menyambut tahun baru 2011 lalu agaknya menjadi momentum tak terlupakan bagi Darco Sangermano. Sebuah peluru nyasar menerjang kepalanya di tengah kemeriahan yang berlangsung di Napoli, Italia. Ajaibnya, peluru itu keluar tanpa operasi.

Seperti dikutip dari Daily Telegraph, Darco tengah asyik menikmati kemeriahan pesta tahun baru bersama pacar saat celaka menimpanya. Peluru itu menembus sisi kanan kepalanya, persis di belakang rongga mata, lalu bersarang di rongga hidung.© dinarcool.blogspot.com

Darco pun segera dilarikan ke rumah sakit akibat pendarahan hebat. Saat menunggu penanganan dokter, pemuda 28 tahun itu rupanya tak kuasa menahan bersin. Semua pun terperangah saat menyaksikan logam peluru muncul dari lubang hidung kanannya, bersamaan dengan bersin itu.

Hasil pemeriksaan tak menunjukkan kerusakan serius pada tengkoraknya. Namun, tim medis tetap harus mengoperasi retina mata dan mengangkat beberapa serpihan tulang akibat hantaman peluru. Ia juga harus menjalani operasi laser untuk memulihkan penglihatannya.© dinarcool.blogspot.com

Darco mengaku hanya merasa sakit kepala saat peluru menembus kepalanya. "Ini adalah kasus yang sangat aneh dan yang pertama saya ketahui," kata Prof Sid Berrone, ahli bedah yang memimpin operasi. "Dia adalah orang yang sangat beruntung. Ia bisa saja terbunuh."

Napoli terkenal sebagai kota yang sering diwarnai kerusuhan saat perayaan tahun baru. Insiden di hari yang sama menewaskan satu orang dan mencederai seorang lainnya.

Baca Selengkapnya»»